Rabu, 05 Desember 2012

aliran-aliran dalam islam kalam, filsafat dan tasawuf


                                                                                                        

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang masalah
       Membahas aliran-aliran dalam pemikiran islam dan sejarahnya, maka tak lain membahas agama islam  itu sendiri. Dalam sebuah perguruan tinggi, aliran-aliran atau ajaran ajaran itu biasa disebut dengan studi islam. Di kalangan para ahli masih terdapat perdebatan di sekitar permasalahan apakah studi islam (agama) dapat dimasukkan kedalam bidang ilmu pengetahuan, mengingat sifat karakteristik antara ilmu pengetahuan dan agama berbeda.
       Namun sesuai dengan perkembangan zaman, perdebatan-perdebatan di kalangan para ahli tentang apakah sebenarnya studi islam menghasilkan titik temu. Nah, untuk itulah kiranya kita harus mengetahui aliran atau ajaran islam yang dalam masa ini lebih dikenal dengan studi islam. Studi-studi dalam islam memiliki banyak sekali aliran
       Ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf adalah ilmu yang dilahirkan dari persentuhan umat Islam dengan berbagai masalah sosiokultural yang dihadapi oleh masyarakat sedang berkembang kala itu mencari dan mempertahankan kebenaran. Dari itu pula lahirlah para pakar dunia yang telah berhasil mempertahankan kebenaran mereka masing- masing, walaupun dengan cara atau jalan yang ditempuh berbeda. Maka dari itu. Pada makalah ini akan memebahas hakekat Ilmu Kalam, Tasawuf, dan Filsafat beserta hubungan ketigannya agar para pembaca mengetahui dan memahami hakikat ketiganya serta hubungan ketiganya.
B.     Rumusan masalah
1.      Apa pengertian kalam dan apa saja sumber-sumbernya?
2.      Apa pengertian tasawuf, tujuan dan sumber-sumbernya ?
3.      Apa pengertian filsafat, ciri-ciri pemikiran filsafat dan tujuannya?
4.      Bagaimana hubungan antara kalam, tasawuf, dan filsafat?








BAB II
                                      PEMBAHASAN     
A.    Pemgertian kalam
       Ilmu kalam biasa di sebut dengan beberapa nama, antara lain : ilmu Ushuludin, ilmu tauhid, fiqh al-akbar, dan teologi islam.1, di sebut ilmu ushuluddin karena ilmu ini membahas pokok-pokok agama (ushuluddin); di sebut ilmu tauhid karena ilmu ini membahas keesaan Allah SWT. Di dalamnya di kaji pula tentang asma” (nama-nama) dan af’al (perbuatan-perbuatan) Allah yang wajib , mustahil, dan ja’iz, Bagi rasulnya. 2. ilmu tauhid sendiri sebenarnya membahas keesaan Allah SWT; dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Secara objektif, ilmu kalam sama dengan ilmu tauhid, tetapi argumentasi ilmu kalam lebih konsentrasikan pada penguasa logika.

Sumber-sumber ilmu kalam
1.Al-qur’an
2.Hadist
3.Pemikiran manusia
4.Insting [1]    


B.     Pengertian tasawuf
       Ilmu tasawuf adalah imu yang mempelajari usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesuciaan dengan ma’rifat menuju keabadiaan, saling mengingatkan antara manusia, serta berpengang teguh pada janji Allah dan mengikuti syari’at rasulullah dalam mendekatkan diri dan mencapai keridaannya.
C.     Sumber ajaran tasawuf
       Sumber ajaran tasawuf adalah al-Qur'an dan Hadits yang didalamnya terdapat ajaran yang dapat membawa kepada timbulnya tasawuf. Paham bahwa Tuhan dekat dengan manusia,yang merupakan ajaran dasarnya dapat dijelaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 186:[2]
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (al-Baqarah 2:186).
                Dasar-dasar tasawuf dalam Al-Qur’an dan Hadits
       Dewasa ini, kajian tentang tasauf semakin banyak di minati orang. Sebagai buktinya adalah misalnya, semangkin banyak buku yang membahas tasauf di sejumlah perpustakaan, dinegara-negara yang bependuduk muslim, juga Negara-negara barat sekalipu yang mayoritas masyarakatnya nonmuslim ini dapat menjadi salah satu  alas an betapa tingginya ketertarikan mereka terhadap tasauf.
Hanya saja, tingkat ketertarikan mereka tidak dapat diklaim sebagai sebuah penerimaan bulat-bulat terhadap tasauf. Jika di teliti lebih mendalam ketertarikan mereka terhadap tasauf dapat dilihat pada dua kecendrungan : pertama, karna kecendrungan terhadap kebutuhan fitra atau naruliah, dan kedua , karna kecendrungan pada persoalan akademis.
                1.Landasan al-qur’an
     Al- qur’an dan as-sunnah adalah nash.setiap muslim kapandan dimana pun dibebani tanggung jawab untuk memahami dan melaksanakan kandunggannya dalam bentuk amalan yang nyata. Jika pemahaman terhadap nash tidak di amalkan, di situlah terjadi kesenjangan. Ketika aisyah di Tanya olah sahabt tentang ahlak rasulullah, ia menjawab “al-qur’an. Para sahabat beliau terkenal sebagai orang-orang yang banyak menghapalkan isi al-qur’an dan kemudian menyebarkannya dengan di sertai pengamalan atau penjiwaan terhadap isinya. Mereka berusaha menerapkan ahlak atau perilaku mereka dengan mencontoh ahlak rasulullah, yakni ahlak al-qur’an.
2.Landasan hadist
       Sejalan dengan apa yang di sebutkan dalam al-qur’an, sebagai mana di jelaskan di atas, tasauf juga dapat di lihat dalam kerangka hadist. Dalam hadist rasulullah bnyak di jumpai keterangan yang berbicara tentang kehidupan rohani manusia. Berikut ini beberapa matan hadist yang dapat di pahami dengan pendekatan tasawuf.[3]
       Tujuan tasawuf adalah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan.[4]
D.    Apakah Filsafat Itu ?
1.       Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan.[5]
        Tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, dan menerbitkan serta mengatur semua itu di dalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan pemahaman menbawa kita kepada tindakan yang lebih layak.
2.      Keinginan kefilsafatan ialah pemikiran secara ketat.[6]
       Filsafat merupakan suatu analisa secara hati – hati terhadap penalaran-penalaran mengenai sesuatu masalah dan penyusunan secara sengaja serta sistematis atas suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan.
3.      Ciri – Ciri Pikiran Kefilsafatan[7]
a.       Suatu Bagan Konsepsional.
       Perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyusun suatu bagan konsepsional. Konsepsi (rencana kerja) merupakan hasil generalisasi dan abstraksi dari pengalaman tentang hal – hal serta proses – proses satu demi satu. Karena itu, filsafat merupakan pemikiran tentang hal – hal serta proses – proses dalam hubungan yabg umum. Di antara proses – proses yang dibicarakan ini ialah pemikiran itu sendiri. Filsafat merupakan hasil menjadi – sadarnya manusia mengenai dirinya sendiri sebagai pemikir, dan menjadi – kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam dunia yang dipikirkannya.
       Sebagai konsekuensinya, seorang filsuf tidak hanya membicarakan dunia yang ada di sekitarnya dan dunia yang ada di dalam dirinya, melainkan juga membicarakan perbuatan berfikir itu sendiri. Ia tidak hanya ingin mengetahui hakekat kenyataan dan ukuran – ukuran utuk melakukan verifikasi terhadap pernyataan – peryataan mengenai segala sesuatu, melainkan ia berusaha menemukan kaidah –kaidah berfikir itu sendiri. Kapankah suatu pemikiran itu menbawa kita kepada kesimpulan yang sah, dan bagaimana caranya, serta mengapa membawa kita kepada kesimpulan yang sah.
     Contoh terbaik mengenai bentuk analisa kefilsafatan yang berupa dialog, yang juga menggambarkan adanya antar hubungan yang hakiki di antara semua pertanyaan, terdapat di dalam karya Plato yang berjudul  Republik. Dalam buku ini, Socrates dilukiskan sedang disertai oleh teman – temannya dalam usaha menemukan jawaban atas pertanyaan “apakah yang dinamakan keadilan itu?” sebelum mengakhiri usaha tersebut dan siap mengajukan jawaban yang merdeka perkirakan tepat, maka Socrates dan teman – temannya berturut – turut mengemukakan banyak pertanyaan mulai dari pertanyaan tentang hakekat pengetahuan sampai pada pertanyaan tentang pendidikan anak – anak yang dimasyarakatkan. Namun semuanya ini dilakukan dalam bentuk percakapan dan dengan jalan memikirkan secara mendalam masalah – masalah yang terkandung di dalamnya.
b.      Sebuah Sistem Filsafat Harus Bersifat Koheren.[8]
       Perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyusun suatu bagan yang koheren, yang konsepsional. Secara singkat, yang saya maksudkan dengan istilah ‘koheren’ ialah runtut. Bagan konsepsional yang merupakan hasil perenungan kefilsafatan haruslah bersifat runtut. Jika orang bertanya apakah arti ‘runtut’(‘ consistent’), maka saya akan mencoba untuk menjawab dengan pertama – tama memberikan batasan terhadap kebalikan runtut. Kebalikannya disebut ‘tidak runtut’ (‘inconsistent’) atau ‘bertentangan’ (‘contradictory’). Kiranya baik bila saya berikan contoh dengan menyebutkan dua buah pertanyaan.
1.      Hujan turun.
2.      Tidak benar bahwa hujan turun.
       Setiap orang dapat dengan jelas memahami bahwa jika benar hujan turun, maka ucapan “maka tidak benar bahwa hujan turun,” tidak mungkin sama benarnya. Tetapi jika ungkapan 1sesat, maka jelaslah bahwa ungkapan 2 tentu benar. Sebaliknya jika ungkapan 2 benar, maka ungkapan 1 tentu sesat, dan jika ungkapan 2 sesat, maka ungkapan 1 tentu benar.
c.       Filsafat Merupakan Pemikiran Secara Rasional.[9]
       Perenungan kefilsafatan berusaha menyusun suatu bagan konsepsional rasional. Yang saya maksudkan dengan ‘bagan konsepsional yang bersifat rasional’ ialah bagan yang bagian – bagiannya secara logis berhubungan satu dengan yang lainnya. Jika saya boleh memakai bahasa yang bebas, bagan tersebut ialah bagan yang berisi kesimpulan yang ‘diperoleh dari premis – premis’, dan bagan yang premis –premisnya ditetapkan dengan baik. Ilmu ukur merupakan suatu perangkat definisi, aksioma dan dalil yang dianggap telah terbukti dengan sendirinya, dan yang kebenarannya tidak dapat diragukan setidak – tidaknya demikian menurut hemat Euclides dan berusaha untuk menyimpulkan semua pertanyaan yang lain sebagai teorema yang berasal dari kebenaran – kebenaran yang terbukti dengan sendirinya tersebut, hanya dengan memakai logika. Juga filsafat merupakan suatu system yang bagian – bagiannya saling berhubungan serupa itu.
d.      Filsafat Senantiasa Bersifat Menyeluruh (Komprehensif).[10]
       Perenungan kefilsafatan berusaha menyusun suatu bagan konsepsional yang memadai untuk dunia tempat kita hidup maupun diri kita sendiri. Dikatakan bahwa ilmu memberikan penjelasan tentang kenyataan empiris yang dialami, filsafat berusaha untuk memperoleh penjelasan mengenai ilmu itu sendiri. Tetapi sesungguhnya filsafat meliputi lebih banyak hal lagi. Filsafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri. Menurut sudut pandangan ini, filsafat mencari kebenaran tentang segala sesuatu dan kebenaran ini harus dalam bentuk yang paling umum.
Pembagian filsafat
       Salah satu pendekatan klasik yang senantiasa berguna untuk menjelaskan pokok pembahasan filsafat adalah dengan menyajikan dengan pembagian filsafat secara singkat beserta contoh khas permasalahan filsafat yang digeluti.
       Berikut ini di paparkan pembagian filsafat yang secara historis penting. (bidang-bidang khusus yang juga penting semisal filsafat matematika, filsafat sejarah, dan filsafat pendidikan).
       LOGIKA. Studi tentang prinsip-prinsip yang dipakai untuk membedakan diantara argumen yang masuk akal dan argumen yang tidak masuk akal, serta tentang bentuk sebagai argumentasi.
                       ETIKA. Studi tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap perilaku manusia.
       METAFISIKA. Studi tentang hakikat terdalam kenyataan. Dapatkah manusia sungguh-sungguh bebas memilih? Apakah Tuhan ada? Apakah kenyaataan pada hakikatnya material atau spiritual? Apakah jiwa sungguh dapat dibedakan dibedakan dari badan?
       EPISTIMOLOGI. Studi tentang asal-usul, hakikat, dan jangkauan pengetahaun.
       ESTETIKA. Studi tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian kita atas berbagai bentuk seni.
       FILSAFAT POLITIK. Studi tentang prinsip-prinsip dasar negara, khususnya menyangkut soal keadilan, kewenangan, kebebasan dan tatanan.
       FILSAFAT AGAMA. Studi tentang hakikat, ragam dan objek kepercayaan agama.
       FILSAFAT ILMU. Studi tentang metode, asumsi, dan batas-batas ilmu pengetahuan.
       SEJARAH FILSAFAT. Studi tentang bagaimana ide-ide filsafat muncul, di bahas, dan berevolusi dalam tulisan para filsuf.[11]  
E.     Ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf mempunyai titik kemiripan dalam objek kajian:
a.       Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya.
b.      Objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan di samping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada.
c.       Objek kajian tasawuf adalah Tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan terhadap-Nya.

Perbedaan diantara ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya.
a.  Ilmu kalam
1. Sebagai ilmu yang menggunakan logika (disamping argumentasi-argumentasi naqliyah).
2. Berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama yang sangat tampak nilai-nilai apologinya.
3. Berisi keyakinan-keyakinan agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen rasional.
4. Bermanfaat sebagai ilmu yang mengajak orang yang baru untuk megenal rasio sebagai upaya untuk mengenal Tuhan secara rasional.
5. Ilmu ini menggunakan metode dialektika (jadaliyah/ dialog keagamaan).
6. Berkembang menjadi teologi rasional dan tradisional.
b.  Filsafat
1. Sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional.
2.  Menggunakan metode rasional.
3. Berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep.
4. Berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang mempunyai rasio secara prima untuk mengenal Tuhan secara lebih bebas melalui pengamatan dan kajian alam dan ekosistemnya secara langsung.
5.  Berkembang menjadi sains dan filsafat sendiri.
6. Kebenaran yang dihasilkan ilmu filsafat : kebenaran korespondensi, koherensi, dan fragmatik.
c. Tasawuf
1. Lebih menekankan rasa daripada rasio.
2. Bersifat subyektif, yakni berkaitan dengan pengalaman.
3. Kebenaran yang dihasilkan adalah kebenaran Hudhuri.
                 4.  Berperan sebagai ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang telah                         
 melepaskan rasionya secara bebas karena tidak memperoleh apa yang      ingin dicarinya.
5.  Berkembang menjadi tasawuf praktis dan teoritis.[12]





BAB III
PENUTUP

A.     KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa:
       Ilmu kalam mempunyai nama lain : Ilmu Aqaid (ilmu akidah-akidah), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang Kemahaesaan Tuhan), Ilmu Ushuluddin (Ilmu pokok-pokok agama).
       Tasawuf adalah salah satu disiplin ilmu yang berkembang dalam tradisi kajian Islam, selain Ilmu Kalam, Filsafat dan Fiqih.
        Dalam perenungan kefilsafatan, kita berusaha untuk mencari dasar – dasar bagi kepercayaan – kepercayaan kita. Dengan mengingat ciri – ciri perenungan kefilsafatan, mudahlah bagi kita untuk memberikan definisi pertama tentang filsafat, berupa suatu definisi operasional. Filsafat merupakan hasil perenungan kefilsafatan. Kita mungkin sudah siap untuk mengatakan, “Tetapi, hal yang dikatakan tentang perenungan kefilsafatan di atas dapat pula dikatakan sebagai pemikiran ilmiah. Bila dua hal tersebut tidak sama, maka apakah perbedaannya?” Sudah tentu ada banyak perbedaan. salah satunya sering dinyatakan dengan nada mengejek saat kita menyebut – nyebut filsafat dan berkata, “Di dalam ilmu (positif) tertentu, kita membicarakan fakta – fakta, tetapi filsafat mempermasalahkan hal – hal yang bersifat umum.” Dalam arti tertentu, hal ini benar dan yang demikian ini tidak merugikan filsafat.
Hubungan tasawuf,  ilmu kalam, dan filsafat
1.      Ketiganya berusaha menemukan apa yang disebut Kebenaran (al-haq).
2.      Kebenaran dalam Tasawuf berupa tersingkapnya (kasyaf) Kebenaran Sejati (Allah) melalui mata hati.
3.      Kebenaran dalam Ilmu Kalam berupa diketahuinya kebenaran  ajaran agama melalui penalaran rasio lalu dirujukkan kepada nash (al-Qur’an & Hadis).
Kebenaran dalam Filsafat berupa kebenaran spekulatif tentang segala yang ada (wujud)










DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihin dan Mukhtar Solihin. Ilmu Kalam dan Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 2000.

Hadiyan. Hubungan Tasawuf, Ilmu Kalam, dan Filsafat. Jakarta, 2008.  
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&ved=0CDgQFjAD&url=http%3A%2F%2Fhadiyan.files.wordpress.com%2F2009%2F06%2Fhubungan-tasawuf-ilmu-kalam-filsafat.ppt&ei=2211UN3PAtDMrQeT2oDIDQ&usg=AFQjCNEq54FFabd7eOx-Ic29BeeezIbfMA 17 oktober 2012).
                                  
Kattsoff, Louis O. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004.

Muzakki, Syamsu. Makalah Akidah Kalam 1 (Hubungan Ilmu Kalam, dengan Filsafat, dan  Tasawuf). Pacitan, 2011. file:///D:/data%20perkuliahan/bahan/makalah-ilmu-
                 kalamhubungan-ilmu-kalam.html (17 oktober 2012).

Rozak, Abdul dan Rosihin Anwar. Dasar-dasar Qur’an dan sejarah kemunculan persoalan-persoalan             kalam. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001.  


Woodhouse, Mark B. Berfilsafat Sebuah Langkah Awal. Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 2007.          

tasawuf.html#. (17 oktober 2012).



                [1]Abdul Rozak dan Rosihin Anwar, Dasar-dasar Qur’an dan sejarah kemunculan persoalan-persoalan kalam (Bandung: CV.Pustaka Setia, 2001), h. 13.  
               [2]Syamsu Muzakki, Makalah Akidah Kalam 1(Hubungan Ilmu Kalam, dengan Filsafat, dan Tasawuf). file:///D:/data%20perkuliahan/bahan/makalah-ilmu-kalamhubungan-ilmu-kalam.html  (14 okt 2012)
               [3] Rosihun Anwar dan Mukhtar Solihin, Ilmu Kalam dan Tasawuf (Bandung: Pustaka Setia, 2000), h. 11-25.
              [4] Hadiyan, Hubungan Tasawuf, Ilmu Kalam, dan Filsafat.  http://www.google.co.id/hubungan-tasawuf-ilmu-kalam-filsafat. Fhadiyan.files.wordpress.com (14 okt 2012)
1 Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, Tiara Wacana Yogya, Banteng, Yogyakarta,2004, cet IX, h.3
[6] Ibid., h.4
[7] ibid., h.7 - 8



 [8] Ibid., h.8-9
[9] Ibid., h.10-11
[10] Ibid., h.12
                  [11]Mark B. Woodhouse, Berfilsafat  Sebuah Langkah Awal (Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 2007), h.34.          
              [12] Nur yandi, ”Hubungan, kalam, filsafat dan tasawuf.” http://nuryandi-cakrawalailmupengetahuan.blogspot.com/2012/06/hubungan-ilmu-kalam-filsafat-tasawuf.html#. (15 oktober 2012).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar